Hari 1, Menyalin Terjemahan Selingkuh (Paulo Coelho)

Sehari 1 kali menyalin terjemahan penulis peraih hadiah nobel, atau setara selama mengikuti kursus menulis. (Paolo Coelho , Selingkuh)

Aku terbangun kembali ditengah malam. Aku pergi ke kamar anak-anak untuk melihat apakah semua baik-baik saja – memang sedikit obsesif , tetapi tentunya itu sesuatu yang kadang-kadang dilakukan semua orangtua.

Aku kembali ke tempat tidur dan berbaring sambil menatap langit-langit.

Aku tidak punya tenaga untuk mengatakan apa yang ingin atau tidak ingin kulakukan. Mengapa aku tidak berhenti saja ikut kelas yoga untuk selamanya? mengapa aku tidak pergi menemui psikiater dan mulai mekonsumsi pil-pil ajaib itu ? mengapa aku tidak bisa mengendalikan diri dan berhenti memikirkan Jacob ? Bagaimanapun, dia tidak pernah menunjukkan dia menginginkan lebih daripada seseorang yang diajaknya berbicara tentang Saturnus dan perasaan frustasi yang cepat atau lambat dihadapi semua orang dewasa.

Aku tidak tahan menghadapi diriku lebih lama lagi. Hidupku bagaikan film yang terus-menerus mengulang-ulang adegan yang sama.

Aku mengikuti beberapa kelas psikologi ketika dulu mempelajari jurnalisme. Dalam salah satu kelas itu , sang profesor – seorang pria yang sangat menaik, baik di kelas maupun di tempat tidur – berkata semua orang yang diwawancarai melewati lima tahap: definsif, promisi diri, percaya diri, pengakuan, dan upaya untuk memperbaiki semuanya.

Dalam hidupku , aku meluncur langsung dari percaya diri ke pengakuan. Aku mulai mengakui hal-hal pada diriku sendiri yang sebaiknya tidak pernah diungkapkan.

sebagai contoh : dunia telah berhenti berputar.

Bukan hanya duniaku, melainkan dunia semua orang di sekelilingku.

ketika bertemu teman-teman, kita selalu berbicara tentang hal yang sama dan orang-orang yang sama. Percakapan kita sepertinya baru, tetapi semua hanya membuang-buang waktu dan energi. Kita mencoba membuktikan bahwa hidup itu masih menarik.

semua orang mencoba mengendalikan ketidakbahagiaannya masing-masing. Bukan hanya aku dan Jacob , tetapi mungkin juga suamiku. Hanya saja dia tidak menunjukkannya.

Dalam tahap pengakuanku yang berbahaya, hal-hal ini mulai jauh lebih jelas. Aku tidak merasa sedirian. Aku dikelilingi orang-orang dengan masalah-masalah serupa, yang semuanya berpura-pura bahwa hidup berlangsung normal. Aku. Tetanggaku . Mungkin bahkan atasanku juga, dan laki-laki yang berbaring di sebelahku.

Setelah usia tertentu, kita mengenakan topeng percaya diri dan kepastian. Lambat laun topeng itu akan melekat di wajah dan kita tidak dapat menanggalkannya.

Sebagai kanak-kanak, kita belajar bahwa jika menangis  kita akan menerima kasih sayang, bahwa jika menunjukan kita sedih , kita akan dihibur. Kalau kita tidak dapat memeroleh yang kita inginkan dengan senyuman , kita dapat melakukannya dengan air mata.

Tetapi kita tidak lagi menangis, kecuali di kamar mandi ketika tak seorang pun mendengar. Kita juga tidak menunjukkan perasaan-perasanaan kita karena orang-orang mungkin berpikir kita rapuh dan mengambil keuntungan dari kita.

Tidur adalah obat terbaik.

Tinggalkan Balasan