Hari ke 2, Menulis dengan Simpel dan jernih

Tugas Latihan di rumah:

  1. Membuat kalimat menjadi simpel dan lebih jernih, menghilangkan kesan prestisius.
    • Usai Pemilu 2014 , polarisasi politik terus terbawa hingga menjelang Pemilu 2019 ini. Politik kebencian berbasis identitas, perkubuan di kalangan elite mengarah kepada tribalisme politik dengan pertentangan tajam secara horisontal di kalangan massa. Politik kebencian tidak lagi efektif di Pilkada Serentak 2018, politik nasional juga tidak meningkat kualitasnya.
  2. Apapun yang kita inginkan dalam hidup adalah kebahagiaan. Agar mencapai tingkat kebahagiaan yang hakiki , Kita  harus memulai dengan menyelaraskan pemikiran , yang kemudian dengan perkataan , sampai akhirnya  tindakan yang kita lakukan.
  3. Tubuhnya sedang , mungkin setinggi  2 meter, kepalanya seperti bola basket, di mulutnya terdapat barisan gigi setajam pisau, kedua mata terlihat bulat penuh dan besar seolah akan keluar  dari tengkoraknya. Dengan mata itulah dia mampu melihat mangsanya di malam hari. Pagi ini,  di pekarangan rumah terlihat anak kambing tergeletak berdarah dengan isi perut terburai.  Dia memang hanya memakan bagian terlunak dari setiap mangsanya.

Hari 1, Latihan ke 3 : Dataran Tortilla (John Steinbeck)

Karya John Steinbeck ( diterjemahkan oleh Djokolelono)

Pendahuluan

Inilah Kisah Danny , kawan-kawan Danny, dan rumah Danny. Kisah tentang bagaimana ketiga hal itu menjelma menjadi suatu kesatuan. Di Dataran Tortilla, bila kita bicara tentang rumah Danny, yang kita maksud bukanlah bangunan kayu berlapiskan kapur pemutih dinding di antara keliaran belukar mawar Castillee yang tak terurus. Bukan. Rumah Danny adalah suatu kesatuan manusia-manusia, kesatuan yang memancarkan kemanisan dan keriaan hidup, kedermawanan, dan pada akhirnya- kesedihan penuh mistik. Sebab rumah Danny dan kawan-kawan Danny bukannya tidak mirip dengan kesatria-kesatria Inggis kuno dengan Meja Bundar mereka. Inilah kiah tentng bagaimana kesatuan itu terbentuk , berkembang, dan menjelma menjadi suatu perkumpulan yang indah dan bijaksana. Kisah ini bertalian dengan petualangan kawan-kawan Danny , amal mereka, pikirin-pikiran mereka, dan jerih payah mereka. Dan pada akhir kisah Akan diceritakan pula bagaimana jimat penghidup kumpulan ini lenyap dan mereka menjadi berantakan.

Di Monterey , kota tua di pantai California  itu, semua orang tahu tentang kisah ini. Diceritakan berulang-ulang, kadang-kadang dengan bumbu-bumbu pula. Karenanya , tepatlah bila kisah ini segera dibukukan. Agar para ahli di kemudian hari tidak menganggap DAnny dan kawan-kawannya hanyalah tokoh-tokoh sebangs Arthur , atau Roland , ataupun Robin Hood . Jangan sampai pada ahli itu berkata “Danny, kawan-kawn Danny dan rumah Danny sebetulnya tidak ada. Danny itu dewa alam setempat. Kawan-kawannya merupakan simbol primitif angin, langit , dan matahari” Untuk mengusir cibiran par ahli berpandangan kecut ini , sekarang dan untuk selamny , kisah ini ditulis.

Monterey bertengger di punggung sebuah bukit. Di bawah tehampar teluk berair biru. Di belakangnya merimbun hutan punis berbatang tinggi dan gelap. Bagian kota sebelah bawah didiami orang-orang Amerika, Italia, nelayan penangkap ikan, dan perusahaan pengalengan ikan. Tetapi di atas bukit, di mana bagian kota berjabatan dengan daerah hutan, di mana jalan-jalan belum mengenal aspal dan sudut jalan tak tahu-menahu tentang lampu jalanan, penduduk asli Monterey bergulat dengan kehidupannya, seperti orang-orang Britania Kuno bergulat di Wales . Mereka disebut kaun paisano.

Mereka tinggal di rumah-rumah kayu dengan halaman tak terurus, penuh sesak. Rumah-rumah itu kadang-kadang berada diantara pohon-pohon pinus. Mereka terlepas dari nafsu perdagangan, bebas dari keruwetan sistem niaga Amerika. Dan, mereka tak mempunyai sesuatu apa pun yang bisa dicuri, diperas, ataupun digadaikan, jadi sistem kehidupan Amerika tidaklah bgitu bersemangat untuk menguasai mereka.

Apakah paisano ? Paisano ialah campuran darah Spanyol, Indian , Meksiko ,dan berbagai ras kulit putih Eropa. Nenek moyangnya telah berdian di California selama seratus atau dua ratus tahun lebih. Ia berbahasa Inggis dengan logat paisano, dan berbahasa Spanyol dengan logat paisano pula. Bila ditanya tentang rasnya, ia bersikeras mengaku keturunan Spanyol murni, lalu membuktikannya dengan menyingsingkan lengan kemeja untuk menunjukan bahwa bagian lembut lengannya berkulit hampir putih. Warna kulitnya yang seperti pipa sawo matang menurut dia disebabkan terbakar oleh sinar matahari. Ia seorang paisano, dan ia tinggal di daerah ketinggian kota Monterey , di daerah yang bernama Dataran Tortilla, walaupun sebetulnya daerah itu sama sekali tidak datar.

Danny seorang paisano. Ia lahir dan besar di Dataran Totilla. Semua orang menyukainya, walaupun ia tak memiliki keistimewaan yang membuatnya menonjol diantara sekian banyak anak-anak Dataran Tortilla yang suka bising itu. Ia memiliki hubungan keluarga dengan hampir semua orang di Dataran Tortilla, entah berdasarkan hubungan darah ataupun percintaan. Kakeknya seorang penting yang memiliki dua buah rumah kecil di Dataran Tortilla, dan sangat di hormati karena kekayaannya. Di masa mudanya Danny lebih suka tidur di hutan, bekerja keras di perternakan untuk mendapat sesuap makanan dari dunia yang kejam ini , tapi ini semua bukan karena Danny tidak mempunyai sanak keluarga yang berpengaruh. Danny bertubuh kecil, berkulit kehitaman, dan berkemauan keras. Pada umut dua puluh lima , kakinya melengkung tepat seperti lengkungan pinggang kuda.

Pada waktu Danny berumur dua puluh lima tahun, perang melawan Jerman diumumkan. Danny dan sahabatnya, Pilon ( sambil lalu, Pilon berarti hadiah kecil untuk pembeli bisa suatu jual beli dilakukan), sedang menikmati dua galon anggur waktu mereka mendengan tentang pengumuman perang tersebut.

Hari 1, Menyalin Terjemahan Selingkuh (Paulo Coelho)

Sehari 1 kali menyalin terjemahan penulis peraih hadiah nobel, atau setara selama mengikuti kursus menulis. (Paolo Coelho , Selingkuh)

Aku terbangun kembali ditengah malam. Aku pergi ke kamar anak-anak untuk melihat apakah semua baik-baik saja – memang sedikit obsesif , tetapi tentunya itu sesuatu yang kadang-kadang dilakukan semua orangtua.

Aku kembali ke tempat tidur dan berbaring sambil menatap langit-langit.

Aku tidak punya tenaga untuk mengatakan apa yang ingin atau tidak ingin kulakukan. Mengapa aku tidak berhenti saja ikut kelas yoga untuk selamanya? mengapa aku tidak pergi menemui psikiater dan mulai mekonsumsi pil-pil ajaib itu ? mengapa aku tidak bisa mengendalikan diri dan berhenti memikirkan Jacob ? Bagaimanapun, dia tidak pernah menunjukkan dia menginginkan lebih daripada seseorang yang diajaknya berbicara tentang Saturnus dan perasaan frustasi yang cepat atau lambat dihadapi semua orang dewasa.

Aku tidak tahan menghadapi diriku lebih lama lagi. Hidupku bagaikan film yang terus-menerus mengulang-ulang adegan yang sama.

Aku mengikuti beberapa kelas psikologi ketika dulu mempelajari jurnalisme. Dalam salah satu kelas itu , sang profesor – seorang pria yang sangat menaik, baik di kelas maupun di tempat tidur – berkata semua orang yang diwawancarai melewati lima tahap: definsif, promisi diri, percaya diri, pengakuan, dan upaya untuk memperbaiki semuanya.

Dalam hidupku , aku meluncur langsung dari percaya diri ke pengakuan. Aku mulai mengakui hal-hal pada diriku sendiri yang sebaiknya tidak pernah diungkapkan.

sebagai contoh : dunia telah berhenti berputar.

Bukan hanya duniaku, melainkan dunia semua orang di sekelilingku.

ketika bertemu teman-teman, kita selalu berbicara tentang hal yang sama dan orang-orang yang sama. Percakapan kita sepertinya baru, tetapi semua hanya membuang-buang waktu dan energi. Kita mencoba membuktikan bahwa hidup itu masih menarik.

semua orang mencoba mengendalikan ketidakbahagiaannya masing-masing. Bukan hanya aku dan Jacob , tetapi mungkin juga suamiku. Hanya saja dia tidak menunjukkannya.

Dalam tahap pengakuanku yang berbahaya, hal-hal ini mulai jauh lebih jelas. Aku tidak merasa sedirian. Aku dikelilingi orang-orang dengan masalah-masalah serupa, yang semuanya berpura-pura bahwa hidup berlangsung normal. Aku. Tetanggaku . Mungkin bahkan atasanku juga, dan laki-laki yang berbaring di sebelahku.

Setelah usia tertentu, kita mengenakan topeng percaya diri dan kepastian. Lambat laun topeng itu akan melekat di wajah dan kita tidak dapat menanggalkannya.

Sebagai kanak-kanak, kita belajar bahwa jika menangis  kita akan menerima kasih sayang, bahwa jika menunjukan kita sedih , kita akan dihibur. Kalau kita tidak dapat memeroleh yang kita inginkan dengan senyuman , kita dapat melakukannya dengan air mata.

Tetapi kita tidak lagi menangis, kecuali di kamar mandi ketika tak seorang pun mendengar. Kita juga tidak menunjukkan perasaan-perasanaan kita karena orang-orang mungkin berpikir kita rapuh dan mengambil keuntungan dari kita.

Tidur adalah obat terbaik.